Inverted Hammer dan Shooting Star: Pengertian, Perbedaan, dan Cara Membacanya dalam Trading Saham
- account_circle rafay
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam analisa teknikal saham, candlestick dapat membantu trader memahami pergerakan harga dan mengamati perubahan tekanan beli maupun jual. Ada banyak pola candlestick yang dipelajari untuk mengenali kemungkinan perubahan tren, dua di antaranya adalah Inverted Hammer dan Shooting Star.
Kedua pola ini memiliki bentuk yang hampir sama, yaitu body relatif kecil di bagian bawah dan sumbu atas yang panjang. Perbedaannya terletak pada tren sebelumnya serta konteks ketika pola terbentuk.
Inverted Hammer sering diamati sebagai potensi sinyal pembalikan naik setelah tren turun, sedangkan Shooting Star dapat menjadi peringatan kemungkinan pembalikan turun setelah tren naik. Namun, keduanya bukan sinyal yang selalu benar dan perlu dikonfirmasi dengan pergerakan harga berikutnya.
1. Apa Itu Inverted Hammer?
Inverted Hammer adalah pola single candlestick yang umumnya muncul setelah harga mengalami penurunan. Pola ini memiliki body kecil di bagian bawah rentang candle, sumbu atas yang panjang, dan sumbu bawah yang pendek atau hampir tidak terlihat.
Bentuknya menyerupai palu terbalik. Ketika pola ini muncul setelah tren turun, trader dapat menggunakannya sebagai alasan untuk mengamati apakah tekanan beli mulai meningkat.
Ciri-Ciri Inverted Hammer
Beberapa karakteristik utamanya adalah:
- Body relatif kecil dan berada di bagian bawah rentang candle.
- Sumbu atas panjang, umumnya sekitar dua kali atau lebih panjang daripada body.
- Sumbu bawah pendek atau tidak terlihat.
- Dapat berwarna hijau maupun merah.
- Muncul setelah tren turun atau penurunan harga yang cukup jelas.
Warna candle bukan faktor utama dalam identifikasi pola ini. Konteks tren dan bentuk keseluruhan candle lebih penting.
Bagaimana Inverted Hammer Terbentuk?
Misalnya, sebuah saham dibuka pada Rp1.000, naik hingga Rp1.080, turun kembali, lalu ditutup pada Rp1.010.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa harga sempat naik cukup tinggi, tetapi tidak mampu mempertahankan seluruh kenaikannya hingga penutupan. Setelah tren turun, aktivitas tersebut dapat menjadi petunjuk awal bahwa pembeli mulai mencoba mendorong harga naik.
Meski demikian, Inverted Hammer baru memberikan indikasi awal. Trader biasanya mengamati candle berikutnya untuk mencari konfirmasi bahwa tekanan beli benar-benar menguat.
2. Apa Itu Shooting Star?
Shooting Star adalah pola single candlestick yang biasanya muncul setelah harga mengalami kenaikan. Bentuknya mirip dengan Inverted Hammer, yaitu body kecil di bagian bawah, sumbu atas panjang, dan sumbu bawah pendek atau hampir tidak terlihat.
Perbedaannya adalah Shooting Star terbentuk setelah tren naik dan dapat menjadi peringatan bahwa tekanan jual mulai muncul pada level harga yang lebih tinggi.
Ciri-Ciri Shooting Star
Karakteristik utama Shooting Star meliputi:
- Body relatif kecil dan berada di bagian bawah rentang candle.
- Sumbu atas panjang, umumnya sekitar dua kali atau lebih panjang daripada body.
- Sumbu bawah pendek atau tidak terlihat.
- Dapat berwarna hijau maupun merah, meskipun candle merah sering dianggap menunjukkan tekanan jual yang lebih jelas.
- Muncul setelah tren naik atau kenaikan harga yang cukup kuat.
Bagaimana Shooting Star Terbentuk?
Misalnya, sebuah saham dibuka pada Rp1.000, naik hingga Rp1.080, kemudian turun kembali dan ditutup pada Rp1.010.
Harga sempat naik cukup tinggi, tetapi kemudian mengalami penolakan dan kembali mendekati harga pembukaan. Jika pola ini muncul setelah tren naik, kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa pembeli mulai kesulitan mempertahankan harga tinggi.
Apabila candle berikutnya menunjukkan penurunan dan harga melemah di bawah area penting, potensi perubahan momentum ke arah bearish menjadi lebih relevan untuk dianalisis.
Namun, jika harga justru kembali naik dan menembus titik tertinggi Shooting Star, peringatan bearish tersebut dapat kehilangan kekuatannya.
3. Perbedaan Inverted Hammer dan Shooting Star
Karena bentuk kedua pola ini hampir sama, tren sebelumnya menjadi faktor penting untuk membedakannya.
| Aspek | Inverted Hammer | Shooting Star |
|---|---|---|
| Tren sebelumnya | Tren turun | Tren naik |
| Body | Kecil di bagian bawah | Kecil di bagian bawah |
| Sumbu atas | Panjang | Panjang |
| Sumbu bawah | Pendek atau tidak ada | Pendek atau tidak ada |
| Makna potensial | Pembalikan bullish | Pembalikan bearish |
| Konfirmasi yang diamati | Penguatan harga setelah pola | Pelemahan harga setelah pola |
Secara sederhana, Inverted Hammer menjadi pola yang menarik untuk diamati ketika harga berpotensi berbalik naik setelah penurunan. Sebaliknya, Shooting Star menjadi peringatan ketika harga berpotensi berbalik turun setelah kenaikan.
Keduanya tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan bentuk candle tanpa memperhatikan konteks tren.
4. Mengapa Kedua Pola Ini Penting dalam Analisa Teknikal?
Inverted Hammer dan Shooting Star memberikan informasi mengenai reaksi harga selama satu periode.
Inverted Hammer menunjukkan bahwa harga sempat bergerak naik cukup jauh sebelum kembali turun mendekati area pembukaan atau penutupan. Setelah tren turun, hal ini dapat menunjukkan upaya pembeli untuk mengangkat harga, meskipun mereka belum berhasil mempertahankan kenaikan tersebut.
Shooting Star menunjukkan pergerakan serupa, tetapi setelah tren naik. Harga sempat mencapai level tinggi, lalu kembali turun mendekati bagian bawah rentang candle. Kondisi ini dapat menunjukkan adanya penolakan harga tinggi atau meningkatnya tekanan jual.
Makna kedua pola tersebut akan lebih kuat jika didukung konteks harga, misalnya kemunculan di dekat support atau resistance yang penting.
5. Cara Menggunakan Inverted Hammer untuk Trading Saham
Berikut langkah-langkah yang dapat dipelajari untuk menggunakan Inverted Hammer.
Langkah 1: Identifikasi Tren Turun
Pastikan harga sebelumnya menunjukkan penurunan atau tren turun yang cukup jelas. Inverted Hammer yang muncul di tengah tren naik tidak memiliki konteks yang sama.
Langkah 2: Perhatikan Area Support
Amati apakah pola terbentuk di dekat support, yaitu area harga yang sebelumnya berpotensi menahan penurunan.
Inverted Hammer di dekat support dapat menjadi alasan untuk memperhatikan respons pembeli, tetapi support tetap dapat ditembus.
Langkah 3: Tunggu Konfirmasi Bullish
Trader dapat menunggu candle berikutnya menunjukkan penguatan harga. Sebagian trader menggunakan penembusan harga tertinggi Inverted Hammer sebagai salah satu bentuk konfirmasi.
Konfirmasi ini tidak menjamin keberhasilan, tetapi dapat membantu mengurangi keputusan yang hanya berdasarkan satu candle.
Langkah 4: Tentukan Entry dan Stop Loss
Jika kondisi sesuai dengan rencana, tentukan area entry dan stop loss sebelum transaksi. Titik terendah pola dapat digunakan sebagai referensi untuk mengevaluasi apakah skenario pembalikan masih berlaku, dengan mempertimbangkan volatilitas dan toleransi risiko.
6. Cara Menggunakan Shooting Star untuk Trading Saham
Shooting Star dapat digunakan sebagai peringatan untuk mengevaluasi kekuatan tren naik yang sedang berlangsung.
Langkah 1: Identifikasi Tren Naik
Periksa apakah harga sebelumnya membentuk kenaikan yang cukup jelas. Konteks ini penting untuk membedakan Shooting Star dari Inverted Hammer.
Langkah 2: Periksa Area Resistance
Amati apakah pola terbentuk di dekat resistance atau area harga yang sebelumnya menjadi hambatan kenaikan.
Langkah 3: Tunggu Konfirmasi Bearish
Trader dapat mengamati candle berikutnya untuk melihat apakah harga mulai melemah. Penurunan di bawah titik terendah Shooting Star dapat menjadi salah satu konfirmasi yang digunakan, sesuai strategi masing-masing.
Langkah 4: Evaluasi Risiko Posisi
Jika sudah memiliki saham, pola ini dapat menjadi alasan untuk meninjau kembali risiko dan rencana transaksi. Keputusan menjual sebaiknya tetap mempertimbangkan tren, tujuan investasi, dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Bagi trader yang ingin membuka posisi jual, pastikan instrumen dan mekanisme transaksi yang digunakan mendukung strategi tersebut.
7. Peran Volume dan Support-Resistance
Volume transaksi dapat membantu trader memahami aktivitas pasar ketika Inverted Hammer atau Shooting Star terbentuk.
- Inverted Hammer dengan peningkatan volume dapat menunjukkan aktivitas perdagangan yang lebih besar saat harga mencoba naik.
- Shooting Star dengan volume meningkat dapat mencerminkan aktivitas yang tinggi selama harga mengalami penolakan di level atas.
- Pola yang muncul dekat support atau resistance penting dapat memberikan konteks tambahan dibandingkan pola yang muncul di tengah pergerakan harga tanpa level yang jelas.
Namun, volume tinggi tidak selalu berarti pembalikan akan terjadi. Kombinasikan informasi tersebut dengan struktur harga dan konfirmasi candle berikutnya.
8. Kesalahan yang Harus Dihindari Pemula
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat menggunakan kedua pola ini adalah:
- Menganggap setiap Inverted Hammer pasti membuat harga naik.
- Menganggap setiap Shooting Star pasti membuat harga turun.
- Mengabaikan tren sebelumnya saat mengidentifikasi pola.
- Membuka posisi hanya berdasarkan satu candle tanpa konfirmasi.
- Mengabaikan support, resistance, dan volume transaksi.
- Tidak menentukan stop loss serta ukuran posisi sesuai risiko.
Untuk meningkatkan konsistensi, trader dapat menguji pola pada data historis dan mencatat hasilnya dalam jurnal trading.
Kesimpulan
Inverted Hammer dan Shooting Star merupakan dua pola candlestick yang memiliki bentuk hampir sama, dengan body kecil di bagian bawah dan sumbu atas panjang. Perbedaan utamanya adalah tren sebelumnya: Inverted Hammer umumnya diamati setelah tren turun sebagai potensi sinyal bullish, sedangkan Shooting Star diamati setelah tren naik sebagai potensi peringatan bearish.
Kedua pola dapat membantu trader mengamati perubahan momentum, tetapi tidak menjamin pembalikan harga. Gunakan konfirmasi harga, support dan resistance, volume transaksi, serta manajemen risiko agar keputusan trading lebih terstruktur.
Catatan: Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu.
- Penulis: rafay

Saat ini belum ada komentar